Bocah Payung



Dari kejahuan tampak payung besar yang melayang. Curahan hujan tidak membuatnya berdiam diri. Dari rambut hingga ke ujung jemari kakinya basah karena hujan. Udara dingin telah menjadi sahabat yang akrab bagi mereka Dibalik rerintik air terdapat rizki untuk sebagian kalangan manusia. Termasuk bocah-bocah payung itu. Tampangya polos kekanak-kanakan. Mereka ada kerena kita membutuhkannya.

Ketika saya mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan di kota depok yang tengah diguyur hujan, saya disuhugi penampakan yang mampu membuat bulu di tengkukku berdiri. Disaat kami membutuhkan bangtuan berlindung dari air hujan, ada dua anak laki-laki yang menyuguhi kami payung besar dan mengantarkan kami ke penyebrangan jalan. Tanpa ada rasa menuntut tarif, mereka iklas meneriba berapapun yang kita beri. Sayapun mencoba apakah mereka masih iklas meminjamkan payungnya dengan uang seribu rupiah? Apa yang kami dapat? bukan penolakan, justru senyum yang mengembang diwajah mereka. Kami juga membalas senyum mereka dan mulai berjalan ditengah guyuran air hujan.

Dikota kota metropolitan seperti ini banyak anak-anak yang putus sekolah dan terjerumus di lembah kegelapan. Tapi saya senang saat kami tahu mereka masih bersekolah. Mereka duduk dikelas 5 SD dan kelas 2 SD. Yangmembuat kami salut, mereka masih berusia belia masa-masa dimana mereka tumbu, bermain, dan belajar. Mereka mampu membagi waktu antara sekolah, mencari rizki, dan bermain, karena bermain memang lah perlu untuk partumbuhan seusia mereka.

Di usianya yang belia, mereka sudah belajar hal besar yang banyak dilupakan oleh orang-orang dewasa yaitu survive dalam gelitan ekonomi. Bahkan masih sering pemuda-pemuda yang berdiam diri dirumah, nongkrong sambil detemani secangkir kopi dan asab yang mengebul dari mulut mereka. Bermalas-malasan tak berdaya. Sesungguhnya kita tahu namun tidak sadar bahwa banyak yang kurang berungtung disbanding kita. Tapi mereka yang kurang beruntung mampu menjawab tantangan yang diberikan oleh alam, karena hal itu dilakukan dengan ikhlas dan tulus. Tapi bengapa kita yang lebih beruntung bersantai-santai ria? Terbuai dengan kenikmatan yang kita miliki tanpa menegok kepada sahabat-sahabat kita yang ada dibawah kita. Mereka lah tunas-tunas bangsa yang bekerja keras tanpa lalai dalam urusan pendidikan

Kenapa kita tidak meniru kegigihan mereka? Upaya mereka? Kesabaran mereka dalam berusaha? Marilah kita rabah diri kita masing-masing,kita harus tahu bahwa dunia ini terus berputar. Kita tidak mungkin selalu diatas dengan beragam kemewahan yang bukan milik kita. Semua itu hanyalah titipan dari Allah yang sebagian ada hak untuk orang lain. Jadi harta, kemewahan buknsemata-mata untuk kita sendiri. Kita harus berbagi dengan mereka melalui harta yang kita cintai itu. Ingat kawan!! Banyak-banyaklah menengok kebaah agar kita tidak lupa diri, tidak kufur akan nikmat Allah kepada kita dan selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki walaupun terkadang tidak sesuai dengan hati kita. Sudah sifat alami manusia yang tidak puas puas dengan apa yang ada. Manusia yang baik itu selalu tidak puas dengan ilmu dan mensyukuri berapapun harta yang dimiliki.

0 komentar: